Jumat, 14 Mei 2010

TANJAKAN KEMESRAAN


Hash minggu ke dua bulan Mei ini, pilihan jalur di arahkan ke lereng gunung Panderman melalui desa Tlekung, suatu desa paling selatan wilayah Kota Batu yang berbatasan dengan kabupaten Malang. Kami pilih start dari Gua Jepang, karena dari tempat ini bisa dipilih beberapa jalur alternatif yang tracknya bagus, pemandangannya juga menarik. Kearah timur kita bisa melihat hamparan kota Malang, ke utara kemegahan gunung Arjuno, ke barat punggung Panderman dan ke selatan nampak gunung Kawi. Untuk menuju jalur hash ini, kalau dari pusat kota Batu mengambil jalan ke arah selatan melewati BNS, kantor desa Tlekung, SD ambil arah kanan kurang lebih masuk 1 kilo dari jalan besar.

Sesampainya di gua Jepang, setelah berbincang seperlunya kami mulai jalan mengikuti sepyuran yang telah ditebar tim pencari jalan. Tidak seperti biasanya, kali ini jalan hanya diawali jalan datar tidak sampai satu kilometer, berikutnya justru jalan menanjak tajam sampai membuat peserta hash merasa berat. Terlihat ada yang sebentar-sebentar berhenti, ada yang berteriak-teriak, ada yang diam karena harus mengatur nafas. Tetapi ada juga yang jalan biasa seolah-olah bukan jalan yang berat. Pasca jalan menanjak yang tajam, berikutnya tetap jalan menanjak tetapi langsam. Kadang mengikuti jalan setapak yang digunakan orang tepian hutan mengambil rumput, kadang lewat jalannya air, dan kadang harus menerobos semak belukar jalan baru.

Satu setengah jam perjalanan kami menjumpai suatu kawasan terbuka, di rerumputan kami lihat sepyuran banyak ditebar. Itu pertanda bagi kami bahwa di tempat itu kita bisa istirahat sejenak karena panoramanya indah. Benar saja, ke arah barat daya nampak panorama gradatif, mulai dari paparan punggung gunung yang hijau, kebiruan hingga makin menjauh nampak warna abu-abu. Tiga meter ke arah barat dari kami berdiri menganga jurang yang dalam, terdengar gemericik air di bawah sana. Wuah........serem !

Setelah berhenti sejenak menikmati panorama indah, kami diberi bonus jalan datar dengan rumput yang relatif tidak menyulitkan kami berjalan. Seperti biasanya hukum jalan di alam setelah menempuh jalan menanjak sudah bisa dibayangkan pasti nanti akan ketemu jalan menurun. Ternyata setelah bonus datar, tiba-tiba kami dihadapkan jalan menanjak yang sangat licin. Ini asyiknya, sebagai tradisi teman-teman yang jalan di depan pada kondisi demikian pasti menunggu, saling tolong. Satu dengan yang lain saling mengulurkan tangan, saling bantu melewati sejengkal demi sejengkal, yang laki memndamping yang perempuan, akrab, bahkan nampak sedikit mesra. Saling berseloroh ketika ada salah satu yang jatuh terduduk, atau menggelayut menimpa temannya di depan.

Benar juga setelah tanjakan kemesraan tadi, jalan berikutnya adalah jalan menurun dan menurun hingga sampai ke tempat start. Teman-teman berkerumun, kali ini langsung menunju tim dapur umum karena kebetulan ada yang tasyakuran anaknya lulus sekolah. Ternyata jalan dua jam telah menguras keringat, sehingga menu pilihan urap-urap, lodeh pedas, telur bali, krupuk dan ikan asin sangat mengundang selera. Lebih nikmat makan menu seperti ini dibanding makan pizza atau steak di rumah makan bergengsi. Ternyata melakukan hal sederhana, makan sederhana dengan rasa suka, berbagi bahagia, penuh syukur atas barokah kesehatan dan rezeki dan jauh dari kepura-puraan, keterpaksaan, kemunafikan menjadikan hidup lebih terasa bermakna.

Sabtu, 01 Mei 2010

JOSSSNYA JALUR GUNDU


Mengakhiri jalan di bulan April, bulannya kaum ibu merayakan hari Kartini. Penulis pikir Latanza mestinya sekali-kali punya ide unik misalnya jalan dengan baju dan pakaian layaknya memperingati hari kartini. Anggota perempuan pakai kebaya, yang laki blangkonan. Pasti unik, kalau di informasikan ke tvone tentu akan diliput. Jenggle beritanya mungkin akan menarik Muri, setidaknya 'shooting' nya menunjukan bagaimana anggota berkebaya manjat tanjakan, nuruni tebing, uniiikkk.......... Sayang ide itu sekedar ide karena tidak pernah tersampaikan di pertemuan anggota.


Kegiatan hash Jum'at 30 April istimewanya pada pilihan jalur yang ditempuh, tim jalur yang akhir-akhir ini cenderung ke kawasan selatan dan barat kota batu kali ini membuktikan bahwa jalur Gundu (timur laut) yang selama ini banyak menyuguhkan jalur kebun apel, ternyata juga terselip jalur berpanorama cuantiiik. Pada jalur ini sama sekali tidak melewati kebun apel, tetapi melewati jajaran pohon bambu, tegakan hutan pinus dengan tanaman sayuran di bawahnya. Jalur yang dimulai dari ujung daerah perkampungan ini cenderung memiliki topografi punggung gunung, yaitu gunung Arjuno, sebaran kertas segi tiga membawa kami ke rute ada yang berupa gundukan yang harus kita naiki dan ada lembah yang harus kita turuni.


" Asyyyyiiiiik, jalurnya Josssssss !!! " kata mas Noer sambil menapaki jalan menanjak.

" Aduhhhhh, boyok !!! " kataku yang dah dua minggu tidak jalan.

" Tancap terus !!!!!!! " kata yang lainnya.

Demikian para anggota Latanza mengekspresikan rasa kegembiraannya masing-masing, satu dengan yang lain saling memperhatikan, yang prima membantu yang agak susah jalan. Kadang untuk jalan yang terjang pak Ali akan mengeluarkan tali untuk memudahkan anggota perempuan melalui jalur itu, yang lain ada yang ikut mengawasi.

" Siiiiiip nggak ada caciiiiiiing !!!!. " teriak mbak Susie yang memang pobie dengan hewan kecil itu yang sering muncul saat hujan tiba. Kalau sudah liat cacing di jalan yang harus dilalui maka ia berlari mundur dan menyeret teman yang di belakangnya.


Di tengah perjalanan sempat teman-teman berteriak-teriak, setelah menuruni jalan antara bedengan tanaman wortel lalu sampai ujung lembah kemudian perlahan harus menaiki lereng di depannya yang cukup terjal, mereka yang sudah sampai di atas secara spontan berteriak. Betapa tidak, selain sebagai ungkapan senang melewati jalur yang terjal ternyata mereka juga disuguhi panorama yang cantik indah mempersona. Memandang ke utara nampak lembah suara gemericik airnya serta alur punggung gunung Arjuna yang biru, sedang ke arah barat nampak kawasan Selekta yang nampak lamat lamat tertutup kabut.


Tidak selesai sampai di situ, kami digiring menuruni punggung gunung, lalu menuruni lembah lagi, sebagian teman sempat mepertanyakan kebenaran jalur yang memang terasa menjauhi tempat kami harusnya kembali. Namun ketika tanda kertas sebagai jejak yang harus kita ikuti selalu ditemukan keraguan itu makin berkurang. Terlebih ketika perkampungan penduduk mulai nampak, gonggong anjing terdengar di kejauhan, sosok orang kampung mulai dijumpai membawa gendongan rumput . Hati kami plong, karena hal itu berarti kami sudah hampir sampai menyelesaikan jalur hesh. Horeeeee !! Alhammdulillah.

Salam Lestari...

Terima kasih telah mengunjungi blog kami, tempat kami berbagi pengalaman tentang kecintaan kami pada jalan sehat lintas alam. Olahraga menyusuri alam sekaligus menikmati keindahan ciptaanNYA. Daerah jelajah kami tidak cuma di kota Batu tetapi daerah Jawa Timur lainnya. Apapun profesi kita, upaya menjaga kesehatan adalah hal yang penting diperjuangkan. Kesuksesan apapun diatas kesakitan badan adalah sebuah kepercumaan.